Senin, 06 Maret 2023

Teknik Penerjemahan- Mata Kuliah 'Micro Translation'

Berikut, kami sediakan teks Bahasa Sumber (BSu) dan teks Bahasa Sasaran (BSa) serta Teknik Penerjemahan yang kami gunakan dalam menerjemahkan teks tersebut. Dengan menyediakan teks BSu dan BSa dapat membantu pembaca dapat memahami secara detail. Artikel ini diterbitkan setelah jam pembelajaran selesai dan sudah diteliti ulang oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah dan artikel ini berasal dari tugas yang dikerjakan secara kelompok, beberapa berperan sebagai Penerjemah (translator) dan satu orang sebagai Proofreader.

Source Language [Bahasa]


Proses Upacara Ngaben

Proses upacara Ngaben berlangsung cukup panjang. Upacara Ngaben diawali dengan Ngulapin yang di lakukan di Pura Dalem, di mana pihak keluarga melakukan ritual permohonan izin dan restu kepada Dewi Durga. Setelah itu, dilakukan upacara Meseh Lawang di Catus Pata atau di bibir kuburan yang bertujuan untuk memulihkan cacat atau kerusakan jenazah yang dilakukan secara simbolis. Kemudian, dilakukan upacara Mesiram atau Mabersih, yaitu memandikan jenazah yang terkadang hanya berupa tulang belulang, dilakukan di rumah duka. Setelah itu, dilakukan upacara Ngaskara, yaitu upacara penyucian jiwa tahap awal. Dilanjutkan dengan Nerpana, yaitu upacara persembahan sesajen atau bebanten kepada jiwa yang telah meninggal.

Puncak dari prosesi Ngaben adalah Ngeseng Sawa, yaitu pembakaran jenazah yang dilakukan di setra atau kuburan. Jenazah yang akan dibakar diletakkan di dalam sebuah replika lembu yang disebut Petulangan. Petulangan adalah tempat membakar jenazah yang berfungsi sebagai pengantar roh ke alam roh sesuai dengan hasil perbuatannya di dunia. Usai jasad dibakar, dilakukan upacara Nuduk Galih, di mana keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang (abu) jenazah setelah pembakaran. Prosesi terakhir adalah Nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke laut, sebagai simbolis pengembalian unsur air dan bersatunya kembali sang jiwa dengan alam.

 

Penulis: I Gusti Bagus Aryanta Kusuma Putra (KKN PPM XXV Tahun 2022 Universitas Udayana)





Target Language [English]


The Process of Ngaben Ceremony


The Ngaben ceremony takes a long process. It starts with the Ngulapin ritual at Pura Dalem, where the family asks for permission and blessing from Dewi Durga. After that, Meseh Lawang ceremony is held as a symbolic ritual at the Catus Pata or at the edge of the grave, aimed to recover defects or damage to the corpse. Then, a Mesiram or Mabersih ceremony is held at the funeral home, which is bathing the corpse, that is sometimes only the bones remain. After that, the Ngaskara ceremony is the ritual that is the first step in purifying the soul. Followed by Nerpana, which is the ceremony of offering sejajen or bebanten to deceased souls.

The climax of the Ngaben procession is Ngeseng Sawa, which is a burning of the body at the setra or cemetery. The body that will be burned is placed inside a replica of an ox called Petulangan. Petulangan is a place to burn the body that serves as a guide to the spiritual world, according to his deeds in the world. After the cremation, the Nuduk Galih ceremony is held, where the family collects the remains of the bones (ashes) of the corpse after the cremation. The final procession is Nganyut, which washes away the ashes into the sea, symbolizing the return of the water element and the re-unification of the soul with nature.


Teknik Penerjemahan

Source Language

Target Language

Teknik Penerjemahan

Proses Upacara Ngaben


The Process of Ngaben Ceremony

Padanan lazim

Peminjaman murni

Proses upacara Ngaben berlangsung cukup panjang. 

The Ngaben ceremony takes a long process.

Padanan lazim

Peminjaman murni

Modulasi

Upacara Ngaben diawali dengan Ngulapin yang di lakukan di Pura Dalem, di mana pihak keluarga melakukan ritual permohonan izin dan restu kepada Dewi Durga.


It starts with the Ngulapin ritual at Pura Dalem, where the family asks for permission and blessing from Dewi Durga.

Padanan lazim

Peminjaman murni

Kompresi Linguistik

Setelah itu, dilakukan upacara Meseh Lawang di Catus Pata atau di bibir kuburan yang bertujuan untuk memulihkan cacat atau kerusakan jenazah yang dilakukan secara simbolis.

After that, Meseh Lawang ceremony is held as a symbolic ritual at the Catus Pata or at the edge of the grave, aimed to recover defects or damage to the corpse.

Padanan lazim

Peminjaman murni

Modulasi

Kemudian, dilakukan upacara Mesiram atau Mabersih, yaitu memandikan jenazah yang terkadang hanya berupa tulang belulang, dilakukan di rumah duka.

Then, Mesiram or Mabersih ceremony is held at the funeral home, which is bathing the corpse, that is sometimes only the bones remain. 

Padanan lazim

Peminjaman murni

Modulasi

Setelah itu, dilakukan upacara Ngaskara, yaitu upacara penyucian jiwa tahap awal.

After that, the Ngaskara ceremony is the ritual that is the first step in purifying the soul.

Padanan lazim

Reduksi

Peminjaman murni

Dilanjutkan dengan Nerpana, yaitu upacara persembahan sesajen atau bebanten kepada jiwa yang telah meninggal.

Followed by Nerpana, which is the ceremony of offering sesajen or bebanten to deceased souls.

Padanan lazim

Peminjaman murni

Puncak dari prosesi Ngaben adalah Ngeseng Sawa, yaitu pembakaran jenazah yang dilakukan di setra atau kuburan. 

The climax of the Ngaben procession is Ngeseng Sawa, which is a burning of corpse at the setra or cemetery. 

Padanan lazim

Peminjaman murni

Reduksi

Jenazah yang akan dibakar diletakkan di dalam sebuah replika lembu yang disebut Petulangan.

The body that will be burned is placed inside a replica of an ox called Petulangan.

Padanan lazim

Peminjaman murni

Petulangan adalah tempat membakar jenazah yang berfungsi sebagai pengantar roh ke alam roh sesuai dengan hasil perbuatannya di dunia.

Petulangan is a container to burn the body that serves as a guide to the spiritual world, according to his deeds in the world. 

Padanan lazim

Usai jasad dibakar, dilakukan upacara Nuduk Galih, di mana keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang (abu) jenazah setelah pembakaran.

After the cremation, the Nuduk Galih ceremony is held, where the family collects the remains of the bones (ashes) of the corpse after the cremation.


Padanan lazim

Peminjaman murni

Kompresi Linguistik


Prosesi terakhir adalah Nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke laut, sebagai simbolis pengembalian unsur air dan bersatunya kembali sang jiwa dengan alam.

The final procession is Nganyut, which washes away the ashes into the sea, symbolizing the return of the water element and the re-unification of the soul with nature.


Padanan lazim

Peminjaman murni










Label: