Teknik Penerjemahan- Mata Kuliah 'Micro Translation'
Berikut, kami sediakan teks Bahasa Sumber (BSu) dan teks Bahasa Sasaran (BSa) serta Teknik Penerjemahan yang kami gunakan dalam menerjemahkan teks tersebut. Dengan menyediakan teks BSu dan BSa dapat membantu pembaca dapat memahami secara detail. Artikel ini diterbitkan setelah jam pembelajaran selesai dan sudah diteliti ulang oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah dan artikel ini berasal dari tugas yang dikerjakan secara kelompok, beberapa berperan sebagai Penerjemah (translator) dan satu orang sebagai Proofreader.
Source Language [Bahasa]
Proses Upacara Ngaben
Proses upacara Ngaben berlangsung cukup panjang. Upacara Ngaben diawali dengan Ngulapin yang di lakukan di Pura Dalem, di mana pihak keluarga melakukan ritual permohonan izin dan restu kepada Dewi Durga. Setelah itu, dilakukan upacara Meseh Lawang di Catus Pata atau di bibir kuburan yang bertujuan untuk memulihkan cacat atau kerusakan jenazah yang dilakukan secara simbolis. Kemudian, dilakukan upacara Mesiram atau Mabersih, yaitu memandikan jenazah yang terkadang hanya berupa tulang belulang, dilakukan di rumah duka. Setelah itu, dilakukan upacara Ngaskara, yaitu upacara penyucian jiwa tahap awal. Dilanjutkan dengan Nerpana, yaitu upacara persembahan sesajen atau bebanten kepada jiwa yang telah meninggal.
Puncak dari prosesi Ngaben adalah Ngeseng Sawa, yaitu pembakaran jenazah yang dilakukan di setra atau kuburan. Jenazah yang akan dibakar diletakkan di dalam sebuah replika lembu yang disebut Petulangan. Petulangan adalah tempat membakar jenazah yang berfungsi sebagai pengantar roh ke alam roh sesuai dengan hasil perbuatannya di dunia. Usai jasad dibakar, dilakukan upacara Nuduk Galih, di mana keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang (abu) jenazah setelah pembakaran. Prosesi terakhir adalah Nganyut, yaitu menghanyutkan abu jenazah ke laut, sebagai simbolis pengembalian unsur air dan bersatunya kembali sang jiwa dengan alam.
Penulis: I Gusti Bagus Aryanta Kusuma Putra (KKN PPM XXV Tahun 2022 Universitas Udayana)
Target Language [English]
The Process of Ngaben Ceremony
The Ngaben ceremony takes a long process. It starts with the Ngulapin ritual at Pura Dalem, where the family asks for permission and blessing from Dewi Durga. After that, Meseh Lawang ceremony is held as a symbolic ritual at the Catus Pata or at the edge of the grave, aimed to recover defects or damage to the corpse. Then, a Mesiram or Mabersih ceremony is held at the funeral home, which is bathing the corpse, that is sometimes only the bones remain. After that, the Ngaskara ceremony is the ritual that is the first step in purifying the soul. Followed by Nerpana, which is the ceremony of offering sejajen or bebanten to deceased souls.
The climax of the Ngaben procession is Ngeseng Sawa, which is a burning of the body at the setra or cemetery. The body that will be burned is placed inside a replica of an ox called Petulangan. Petulangan is a place to burn the body that serves as a guide to the spiritual world, according to his deeds in the world. After the cremation, the Nuduk Galih ceremony is held, where the family collects the remains of the bones (ashes) of the corpse after the cremation. The final procession is Nganyut, which washes away the ashes into the sea, symbolizing the return of the water element and the re-unification of the soul with nature.
Teknik Penerjemahan

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda